Berminat mengadakan Seminar/Workshop di sekolah, yayasan atau lembaga Anda, Hubungi Saya: 021-33014792 / 0817-6907033 E-mail: yudipribadi@yahoo.com NGGAK PERLU MAHAL UNTUK JADI KREATIF!

Selasa, 06 April 2010

SERIGALA MEMBALAS BUDI

Hallo Adik-Adik, Selamat berjumpa dengan Kak Yudi dalam acara "CERITA PAPA".
Kali ini Kak Yudi akan membawakan cerita dengan judul “SERIGALA MEMBALAS BUDI”. Seekor serigala sedang menyantap makan paginya dengan rakus. Tiba-tiba sepotong tulang tersangkut di tenggorokannya. Ia mencoba memuntahkannya, tetapi tidak bisa. Ia terus berusaha mengeluarkan tulang itu, tetapi usahanya sia-sia saja.
“Tulang kurang ajar!” gerutu serigala sambil memegangi lehernya.

Ia merasa tersiksa dengan tulang itu. Ia hampir menangis ketika tiba-tiba matanya menangkap bayangan burung bangau yang sedang melintas di kejauhan.

“Ah,” katanya dalam hati, “Aku akan meminta tolong kepada burung bangau. Ia memiliki paruh yang panjang. Kuharap ia dapat mengelurkan tulang celaka ini dari tenggorokanku.”

Dengan tergesa-gesa serigala mendatangi burung bangau. Ia segera mendekati sang bangau yang sedang berdiri di pinggir kolam.

“Selamat pagi, Nona Bangau.” Kata serigala dengan suara lembut dan merdu.

Nona Bangau buru-buru akan terbang ketika melihat siapa yang menyapanya. Ia sangat takut kepada Si Serigala.

“Tolong, Nona Bangau, jangan tinggalkan aku. Aku butuh bantuanmu. Aku punya masalah besar sekarang.” Suara Serigala terdengar memelas.

“Baiklah!” sahut Nona Bangau tetap berdiri jauh-jauh dari Serigala. “Coba bayangkan! Seekor serigala membutuhkan bantuan Bangau! Kau pikir aku percaya? Bagaimana dengan saudara-saudaraku, bukankah kau telah membunuh mereka, kau ingat itu?”

“Ayolah, Nona Banggau. Kita lupakan saja yang sudah-sudah. Aku menyesal telah melakukannya. Sekarang aku sangat membutuhkan bantuanmu,” kata Tuan Serigala sambil melangkah maju.

“Tetap di sana, Tuan Serigala!” teriak Nona Bangau. “Aku belum mau mati di tanganmu.”

“Tenanglah, Nona Bangau. Aku tidak akan memangsamu, percayalah padaku. Aku akan memberimu hadiah kalau kamu bisa menolongku.”

“Aku? Menolongmu?” cibir Nona Bangau. “Lupakan saja! Aku tidak bisa kau bodoho. Aku tahu kau sedang lapar dan kau akan memangsaku.”

“Nona Bangau, tidakkah kau lihat aku sangat menderita? Sebuah tulang menyangkut di tenggorokanku. Jika tidak segera dikeluarkan, aku akan segera mati,” kata Tuan Serigala dengan suara pelan dan sangat memelas.

Adik-adik yang manis, Tuan Serigala yang sedang kesakitan tadi mengharapkan pertolongan Nona Bangau.

“Oh, Nona Bangau, tolonglah aku, aku sangat menderita? Tulang ini akan membuatku segera mati,” suara Tuan Serigala terdengar memelas

“Oh, kasihan sekali. Tapi apa yang bisa kulakukan untukmu? Aku bukan seorang dokter.” Kata Nona Bangau. Ia mulai merasa kasihan melihat Tuan Serigala.

“Aku tahu kau bukan dokter, tetapi kau punya paruh yang panjang. Kau bisa memasukkannya ke mulutku dan mengeluarkan tulang itu.”

“Apa?!” Nona Bangau tersentak. “Memasukkan paruhku ke mulutmu? Itu sangat berbahaya, Tuan Serigala. Aku minta maaf, aku tak dapat melakukannya.” Jawab Nona Bangau sambil beranjak pergi.

“Aku sekarat, aku sekarat. Tolonglah aku Nona Bangau,” rengek Tuan Serigala sambil kelojotan pura-pura mau mati. “Hanya kau satu-satunya yang bisa menolongku. Aku berjanji akan memberimu hadiah yang istimewa.”

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Sekarang bukalah mulutmu.”

Nona Bangau segera memasukkan paruhnya ke mulut Tuan Serigala dan mengeluarkan sepotong tulang yang berada di tenggorokannya.

“Apakah kau merasa baik sekarang?” tanya Nona Bangau kemudian.

Tuan Serigala yang merasa tenggorokannya sudah kembali normal, merasa senang. Ia tertawa dengan suara nyaring. Tetapi tiba-tiba ia menghentikan tawanya lalu memandang Nona Serigala.

“Kenapa kau berdiri di situ dan memandangiku. Sana pergi!” usir Tuan Serigala.

“Tapi kau berjanji akan memberiku hadiah. Sekarang berikan hadiah itu, Tuan Serigala” seru Nona Bangau.

“Hadiah?” Seharusnya kau berterima kasih aku tidak memakanmu ketika kepalamu berada dalam mulutku. Bukankah itu sudah cukup sebagai hadiah buatmu. Pergilah! Sebelum aku menerkammu dan menjadikanmu santapanku!”

Nona bangau pun segera pergi dengan ketakutan, sebelum Tuan serigala menerkamnya. Wah, ternyata janji Serigala tadi hanya bohong belaka. Pertolongan Nona bangau justru dibalas dengan ancaman yang menakutkan.

Nah pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini:

Ada banyak orang yang sikapnya seperti Tuan Serigala itu: Tidak tahu berterima kasih. Tetapi kita sebagai anak-anak Tuhan yang manis, harus selalu berterima kasih kepada sesama kita yang telah membantu dan menolong kita, apakah ia ayah kita, ibu kita, kakak kita, adik kita atau teman-teman kita. Dengan berterima kasih, itu menunjukkan bahwa kita senang menerima bantuan atau pemberiannya. Terlebih kepada Tuhan yang selalu memberkati dan melindungi kita setiap waktu. Kita harus selalu menaikkan ucapan syukur kepada-Nya setiap saat.

Sampai jumpa lagi. Jangan lupa, rajin belajar dan taati nasihat orang tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar